Kamis, 01 Desember 2011

PANDE BESI

Sebuah cerita dari "Pande Besi"  Pasar Gawok kamis pon, 1 Desember '11 :














Di Delok Terusane (Enek Foto-Fotone Lho)...

Senin, 21 November 2011

PENONTON







Dalam keramaian aku bergabung
Tak kenal pun akan ikut meramaikan
Selalu diharapkan tapi terpinggirkan....
Terkadang hanya bisa melihat punggung-punggung berjajar..





Penonton :
             Secara harfiah, istilah “penonton” berasal dari awalan pe- dan kata kerja tonton dalam bahasa Indonesia. Awalan pe- dalam hal ini berarti orang yang melakukan pekerjaan sesuai dengan kata kerja. Bila kata kerjanya tonton, maka penonton berarti orang yang menyaksikan suatu pertunjukan atau tontonan. 

               Tersajikan dalam beberapa frame, sekilas tentang cerita dari penonton :










Di Delok Terusane (Enek Foto-Fotone Lho)...

Apem Sewu & Bengawan Solo Getek Festival (50mm)

        Sekitar 1000 apem dikirab dalam gelaran Festival Apem Sewu 2011 yang diadakan di Kampung Sewu, Kelurahan Sewu, Kecamatan Jebres, Surakarta 20 November 2011. Acara yang digelar pada minggu pagi tersebut bersamaan dengan Bengawan Solo Getek Festival. Sedikit cerita yang dapat saya bagikan adalah cuplikan foto dari kegiatan-kegiatan dari bidikan lensa 50mm.




       Dari niatan untuk mengabadikan moment dan mencoba membatasi ruang gerak (zooming) lensa, saya sajikan beberapa foto :
 
















Di Delok Terusane (Enek Foto-Fotone Lho)...

Rabu, 12 Oktober 2011

KEKERINGAN GUNUNG KIDUL

KEKERINGAN GUNUNG KIDUL
CERITA DI BALIK REALITA KEHIDUPAN
 “SUMBER MATA AIR”



Terletak di atas tanah kapur. Sebuah cerita ini adalah segelintir catatan tentang kehidupan manusia di kawasan yang kesulitan untuk mendapat “sumber mata air”. Siapa menyangka, kebutuhan air untuk kehidupan mereka hanya bersumber dari “tadah hujan/tandon”.
Aku dan kawanku mengelilingi daerah yang dilanda kekeringan, berjumpa dengan sosok-sosok sendang yang dangkal. Dari mana mereka mendapatkan air? Terjawablah atas pertanyaan-pertanyaan  ketika berkunjung di kecamatan Tanjungsari dan Saptosari, Gunung Kidul pada 10 Oktober 2011.

Catatan Perjalanan

Cerita diawali dari rumah yang terletak di kabupaten Bantul, Minggu (9/10) pagi. Selalu berkemas dengan tas gunung (carier) berwarna merah untuk bersiap menuju kota Surakarta. Segala perlengkapan kamera pun telah dipersiapkan untuk agenda hari itu dan esoknya.
Nampaknya berbeda, aku berkendara dengan sebuah motor bebek berwarna hitam. Tujuan pertama adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli, bernama: Pasar Bantul. Dengan mata terkantuk dikarenakan pada malamnya nongkrong bersama KODJA (Komoenitas Onthelis Djadoel Djogdjakarta) hingga tengah malam.
Seperti biasanya, keramaian pasar selalu menyambut kedatanganku. Sejenak setelah memarkirkan sepeda motor aku berjalan masuk pasar. Menuju sebuah tempat jualan, aku mencari keberadaan ibu dan ayah untuk meminta izin dan saku untuk seminggu kedepan. Beliau menanyakan kenapa sudah balik sekarang? Akupun memberi alasan dengan jelas sambil menukar kunci kendaraan.
Bersama dengan restu untuk berkeliling ke Gunung Kidul, aku pun bergegas berangkat. Melewati keramaian jalan Jogja-Solo, sebuah kendaraan sepeda motor berwarna biru melaju kencang.

Beberapa puluh menit kemudian……sampailah di kos…bergegas untuk menuju Gunung Kidul…

Gunung Kidul, Senin (10/10).

Terbangun dari tidur dalam ruangan bernama mushola yang terletak di tepian pantai Sundak, Tepus, Gunung Kidul. Kami menuju tujuan pertama di mana terdapat telaga yang mengalami kekeringan. Penat masih terasa, terbayang perjalanan keberangkatan dari Surakarta menuju Gunung Kidul kemarin.
Berikut sekilas gambaran di daerah yang mengalami kekeringan :































Di Delok Terusane (Enek Foto-Fotone Lho)...
hostgator coupons