Menurut informasi yang saya dapatkan, sekitar 4 juta tahun yang lalu Sungai Bengawan Solo "Purba" masih bermuara di laut selatan. Setelah terjadi proses geologis, daerah yang dulunya lautan itu sekarang menjadi pegunungan kapur. Satu-satunya kawasan di Yogyakarta yang mempunyai pantai berpasir putih... ya Gunung Kidul.
Aku mau berbagi cerita dari "bekas" muara sungai Begawan Solo "Purba" yang terletak di Desa Songbanyu dan Desa Pucung Kecamatan Girisubo berjarak sekitar 46 KM dari kota Wonosari. Alur itu membelah pegunungan kapur, dan kini dijadikan lahan pertanian. ya...kawasan muara sungai Bengawan Solo "Purba" kini menjadi pantai dengan nama Pantai Sadeng. Dikenal karena pelabuhannya yang memang menjadi pemasok ikan untuk kawasan Jogja.


Pantai Sadeng terletak diujung timur Gunung Kidul, berbatasan dengan Pracimantoro, Wonogiri yang masuk Provinsi Jawa Tengah. Aku sendiri berkunjung ke Sadeng karena salah info saat akan motret acara larung di pantai Baron dan pantai Kukup. Dari rumah pukul 05.00 pagi (27 November '11) langsung ngebuuut menuju pantai Baron, 1,5 jam perjalanan dan ternyata warga sudah beres-beres. Bapak-bapak menjelaskan larungan sudah diadakan pada 26 November '11 sore, dan malamnya digelar wayangan. Karena sudah sampai, apa boleh buat....aku melanjutkan ke pantai Kukup. Sebenarnya saya sudah pernah mengunjungi sebagian besar pantai di Gunung Kidul seperti : Wediombo, Siung, Sepanjang, Drini, Krakal, Indrayanti, Sundak, dan Ngobaran. Namun, pada hari itu saya niatkan mengunjungi pantai paling timur yaitu Pantai Sadeng.
Menempuh perjalanan 1 jam kemudian, aku tiba di sebuah tanjakan " Bengawan Solo 'Purba' ". Terlihat alur berkelok-kelok dan hilang di balik pegunungan kapur. Aku melihat kakek tua sedang berjalan membawa kayu dan arit (clurit), segeralah aku hampiri untuk memberi tumpangan. Kebetulan sekali kakek tersebut mempunyai ladang di dekat pantai Sadeng. Aku pun memaksa kakek itu untuk naik motor, akhirnya dengan tubuh gemetar dia naik sambil membuang kayu yang pakai untuk memikul bekal. Ternyata kakek itu trauma akibat pernah jatuh dari motor, terpaksalah aku bawakan. Sesampai di ladang kakek itu berpesan kalau nanti aku balik, mampir ke ladang mau dikasih kelapa muda. Wah...kesempatan wkwkwkwk tapi aku segera menuju pelabuahan.

Ketika kapal datang dari laut, nelayan langsung naik ke daratan, sedangkan beberapa orang naik ke kapal untuk packing ikan sebeleum lelangan. Para pembongkar itu pun dapat jatah ikan, tak terkecuali saya, lumayan dikasih 2 ikan tuna yang gedhe...gedhe....wkwkwkkw. Untuk bongkar ikan, kapal yang sudah merapat dibawa lagi ke tengah pelabuhan sambil membawa basket (tempat ikan), ada juga nelayan kecil menghampiri minta ikan untuk umpan melaut. Tapi ada juga beberapa warga yang minta untuk sekedar dijadikan lauk (padahal yang diambil ikan tuna gedhee... berikut ceritanya :







Tidak ada komentar:
Posting Komentar